Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Makalah Perkembangan Kreativitas Anak

MAKALAH

PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK


Oleh


NURFITRI,S.Pd


SD Negeri 002 Teluk Air
Kecamatan Karimun Kabupaten Karimun
Kepulauan Riau





DAFTAR ISI


Kata Pengantar…………………………………………………………………….i
Daftar Isi....................................................................................................................ii
BAB I
1.1  Latar Belakang………………………………………………………………….1
1.2  Permasalahan…………………………………………………………………....1
1.3  Tujuan…………………………………………………………………………..2
BAB II
2.1    Pengertian Kreativitas…………………………………………………………3
2.2    Pengembangan Kreativitas…………………………………………………….3
2.3    Strategi 4P dalam Pengembangan Kreativitas…………………………………4
2.4    Tantangan dan Hambatan Dalam Berpikir……………………………………..6
2.5    Tahapan Proses Berpikir Kreatif……………………………………………….8
2.6     Pengembangan Kreativitas Dalam Pembelajaran……………………………...9
BAB III
1.1      Simpulan……………………………………………………………………….12
            3.2    Saran…………………………………………………………………………...12
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………13

                 

KATA PENGANTAR

              Puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat Allah Swt  yang telah melimpahkan karunia-Nya berupa kesehatan kekuatan, dan kesempatan pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan  makalah ini, yaitu tentang “ Pengembangan Kreativitas Anak “ dalam kegiatan belajar mengajar.
             Semua guru pasti mengharapkan keberhasilan dari pembelajaran yang dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.Namun dalam pelaksanaannya seorang guru banyak sekali mengalami hambatan.Di sinilah guru dituntut untuk  mengembangkan kreativitas anak didiknya.Kreativitas anak akan berkembang dengan ada kerja sama guru,kepala sekolah serta orang tua .
              Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu,dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritik dan saran yang membangun.Semoga apa yang dilakukan penulis dalam makalah ini bermanfaat bagi kita semua,terutama bagi para pendidik.                                                                                                                                                          Atas segala perhatian,penulis mengucapkan terima kasih.                   


                                                                              Tanjungbalai Karimun, 02 Mei 2010

                                                                                    Nurfitri,S.Pd  
                                                                                    NIP.19660128 198609 2 001
                                                                                                                                                                       
i
             
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Kreativitas dan bakat pada diri anak perlu dipupuk dan dikembangkan. Karena dengan kreativitas dan bakat yang dimilikinya itu mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang kreatif. Sebagai pribadi yang kreatif ,kelak mereka bukan saja dapat meningkatkan kualitas pribadinya,tetapi juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan negara.
            Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan disegala bidang, yang memerlukan jenis-jenis keahlian dan keterampilan serta dapat meningkatkan kreativitas, produktivitas, mutu, dan efisiensi kerja.
             Perilaku kreatif adalah hasil pemikiran kreatif. Karena itu sistem pendidikan hendaknya dapat merangsang pemikiran, sikap, dan perilaku kreatif – produktif, di samping pemikiran logis dan penalaran. Namun dalam kenyataannya masih sedikit sekolah yang menyelenggarakan upaya pengembangan kreativitas dan bakat anak. Hal ini disebabkan antara lain oleh masih sangat langkanya literature yang membahas secara menyeluruh dan terinci mengenai kreativitas, bakat, dan upaya – upaya pengembangannya  khususnya di sekolah dasar.
            Untuk memupuk bakat anak dan mengembangkan kreativitas anak perlu pastisipasi orang tua murid.
1.2  Permasalahan
      Permasalahan dalam karya tulis ini adalah bagaimana meningkatkan kreativitas anak.


1
2

1.3  Tujuan                                                                                                                            
                  Tujuan tulisan  dapat  pemicu dan pemacu rekan guru untuk segera menyelenggara    kegiatan-kegiatan,atau upaya pengembangan kreativitas bakat anak di tempat tugasnya masing-masing.


















BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Kreativitas

               Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat sesuatu yang baru dan berbeda entah sifatnya masih imajiner (gagasan) atau sudah diekspresikan dalam bentuk suatu karya. Karya di sini tidak hanya bentuk suatu benda tapi dapat juga berupa berpaduan warna, detail.
Di samping itu pemikiran berbeda namun masih dapat diterangkan dengan penalaran atau logika juga disebut Kreativitas. Ide-ide yang cemerlang atau kecerdasan yang tinggi disebut juga sebagai kreativitas. Kreativitas sifatnya bawaan namun berkembangnya butuh adanya kesempatan dari lingkungan atau butuh pengetahuan yang banyak tentang segala hal dari lingkungan. Kreativitas adalah kegiatan otak yang teratur, komperehensif, dan imajinatif menuju suatu hasil yang orisinil sehingga inovatif dari pada sekedar reproduktif. Kreativitas adalah lawan dari tingkah laku “conformitas”.

2..2  Pengembangan Kreativitas
1. Dengan berkreasi, orang dapat mewujudkan dirinya, perwujudan diri tersebut termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Menurut Maslow (Munandar, 1999) kreativitas juga merupakan manifestasi dari seseorang yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya.
2. Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. Siswa lebih dituntut untuk berpikir linier, logis, penalaran, ingatan atau pengetahuan yang menuntut jawaban paling tepat terhadap permasalahan yang diberikan.
3
4


 Kreativitas yang menuntut sikap kreatif dari individu itu sendiri perlu dipupuk untuk melatih anak berpikir luwes (flexibility), lancar (fluency), asli (originality), menguraikan (elaboration) dan dirumuskan kembali (redefinition) yang merupakan ciri berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Guilford (Supriadi, 2001).
3. Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
4. Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.
            Mengingat pentingnya kreativitas siswa tersebut, maka di sekolah perlu disusun suatu strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas. Strategi tersebut diantaranya meliputi pemilihan pendekatan, metode atau model pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang saat ini sedang berkembang ialah pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran (Ratnaningsih, 2003). Masalah yang disajikan pada siswa merupakan masalah kehidupan sehari-hari (kontekstual).

2.3  Strategi 4P dalam Pengembangan Kreativitas
               Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi kreatif dan kemampuan mengungkapkan dirinya secara kreatif dalam bidang dan kadar yang berbeda – beda. Yang penting dalam pendidikan adalah bahwa bakat kreatif dapat dan perlu ditingkatkan dan dikembangkan.

Pengembangan kreatifitas dengan pendekatan 4 P

  1. Pribadi,
            Kreatifitas adalah ungkapan keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungan. Dari pribadi yang unik inilah diharapkan timbul ide – ide baru dan produk – produk yang inovatif.

5
  1. Pendorong,
            Untuk mewujudkan bakat kreatif siswa diperlukan dorongan dan dukungan dari lingkungan (motivasi eksternal) yang berupa apresiasi, dukungan, pemberian penghargaan, pujian, insentif, dan dorongan dari dalam diri siswa sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Bakat kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung, tetapi dapat pula dihambat dalam lingkungan yang tidak mendukung. Banyak orang tua yang kurang menghargai kegiatan kreatif anak mereka dan lebih memprioritaskan pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan memperoleh rangking tinggi dalam kelasnya. Demikian pula guru meskipun menyadari pentingnya perkembangan kreatifitas tetapi dengan kurikulum yang ketat dan kelas dengan jumlah murid yang banyak maka tidak ada waktu bagi pengembangan kreativitas.
  1. Proses,
            Untuk mengembangkan kreativitas siswa, ia perlu diberi kesempatan untuk bersibuk secara aktif. Pendidik hendaknya dapat merangsang siswa untuk melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan kreatif. Untuk itu yang penting adalah memberi kebebasan kepada siswa untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Pertama – tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk kreatif yang bermakna.
  1. Produk,
            Kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna adalah kondisi pribadi dan lingkungan yaitu sejauh mana keduanya mendorong seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan , kegiatan) kreatif. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa pendidik menghargai produk kreatifitas anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain, misalnya dengan mempertunjukkan atau memamerkan hasil karya anak. Ini akan lebih menggugah minat anak untuk berkreasi.




6


2.4  Tantangan dan Hambatan dalam Berpikir
                Kreativitas merupakan kemampuan mental psikologis yang tidak tampak langsung secara kasat mata. Kreativitas seringkali terbelenggu oleh pola berpikir yang kaku dan terikat pada kaidah-kaidah baku atau alur sebab akibat secara konvensional. Disatu pihak, pola berpikir demikian dapat memudahkan penentuan keputusan akhir dan mengkomunikasikannya kepada pihak lain, namun di lain pihak malah akan mematikan timbulnya insiatif dan selanjutnya membatasi berkembangnya kreativitas, sehingga inovasi sulit diperoleh.
Ada banyak tantangan yang dihadapi dalam proses berpikir kreatif, di antaranya adalah:
  1. Ragu-ragu dan tidak ada keberanian dalam menyampaikan ide karena dihantui perasaan takut salah, hawatir idenya akan dilecehkan orang lain, dan takut dikucilkan dari lingkungan;
  2. Sangat terikat pada mekanisme berpikir yang sudah terpola secara baku, sehingga memandang tidak perlu direpotkan dengan mencari-cari sesuatu yang baru dan belum tentu akan menjadi lebih baik;
  3. Kondisi lingkungan yang bersifat status quo sehingga cenderung akan menolak perubahan;
  4. Proses berpikir yang lamban sehingga idenya keburu ditangkap pihak lain.






7
           Lingkungan dan budaya tradisional seringkali menjadi penghambat utama bagi lahirnya kreativitas. Misalnya: kurangnya wawasan dan penguasaan pengetahuan yang terbatas, tradisi turun temurun yang mengajarkan bahwa seorang anak harus selalu patuh akan menghambat kreativitas berpikir anak, pimpinan yang bersifat otoriter tidak memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk berbeda pendapat, penolakan lingkungan atas ide kreatif yang dimunculkan akan mematikan semangat orang untuk menemukan terobosan baru, suasana hati yang sedang gundah atau panas akan ikut menutup lahirnya ide baru, demikian pula ancaman atau tekanan (pressure) dari pihak lain dapat membuyarkan gagasan-gagasan baru.
          Proses berpikir kreatif akan menghasilkan ide-ide kreatif, yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi model baru dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan atau memecahkan permasalahan. Namun demikian, ternyata tidaklah mudah untuk memunculkan ide sebagai penyaluran hasil berpikir kreatif tersebut. Hal ini membutuhkan keberanian untuk mengungkapkan gagasan baru, yang kemungkinan berbeda dari keyakinan dan kebiasaan masyarakat. Sehubungan dengan hal itu, guru mempunyai kewajiban untuk mengangkat kesadaran siswa akan pentingnya penguasaan kompetensi, dan menumbuhkan motivasi untuk berani menampilkan kompetensinya.      
      Di antara sekian banyak kompetensi yang harus dikuasai siswa adalah kemampuan menganalisis masalah. Hal ini tentu saja harus diawali oleh kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif. Sehubungan dengan tuntutan di atas, maka harus diawali oleh semangat dan motivasi guru untuk mengembangkan kreativitasnya, baik menyangkut perluasan wawasan pengetahuan dan substansi keilmuan, maupun dalam hal memilih dan menetapkan strategi pembelajaran yang dapat mendorong kreativitas siswanya. Namun, guru tidak boleh mengesampingkan pemahamannya terhadap konsep-konsep dasar dalam pembelajaran.


8
 2.5 Tahapan Proses Berpikir Kreatif
          Menurut Veitzal Rivai dkk (2008: 767-769) ada empat tahap dalam proses berpikir kreatif, yaitu: tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Pada tahap persiapan dilakukan kajian awal untuk mendalami fokus masalah yang dihadapi, kemudian dicari berbagai informasi dari berbagai sumber sebagai bahan melakukan evaluasi atas rancangan analisis yang telah disiapkan. Apabila masih dipandang perlu, kemudian dicari informasi tambahan untuk melengkapi bahan analisis.
          Pada tahap inkubasi, dilakukan relaksasi dan cooling down sambil mencari informasi pelengkap. Seringkali ide cemerlang akan muncul pada tahap ini, yaitu ketika merenungkan kembali hasil kajian yang terkonsentrasi penuh pada masalah yang dihadapi.
          Tahap iluminasi merupakan tahap klimaks dari tahap inkubasi, yaitu dengan munculnya gagasan cerdas untuk mengatasi persoalan. Selanjutnya pada tahap verifikasi, gagasan-gagasan yang diperoleh melalui proses berpikir kreatif kemudian dianalisis dan diuji manfaat serta kebermaknaannya.
          Veitzal Rivai dkk (2008: 769-776) menjelaskan tentang lima teknik berpikir kreatif, yaitu: merangsang ide, mendaftar sifat, hubungan yang dipaksakan, sumbang saran, dan prinsip berselang seling.
 Berdasarkan pandangan Veitzal Rivai di atas dapatlah disimpulkan sebagai berikut.
  1. Merangsang ide (idea spurring) yaitu teknik berpikir kreatif yang menggunakan bantuan daftar pertanyaan yang dapat merangsang terciptanya ide baru. Serangkaian pertanyaan pemicu munculnya ide (gagasan) dari Alex F. Osborn dalam Veitzal Rivai terdiri dari: Substitute?, Combine?, Adapt?, Magnify?, Modify?, Put to Other Use?, Eliminate?, Reverse?


9
  1. Mendaftar sifat (attribute listing) yaitu teknik berpikir kreatif yang menggunakan elemen-elemen sifat dari suatu hal yang bersifat tangible (nyata).
  2. Hubungan yang dipaksakan (forced relationship) yaitu teknik berpikir yang merangsang kreativitas atas dasar asosiasi bebas yang dipaksakan. Misal dengan memaksanakan untuk memadukan dua atau lebih gagasan lama yang independen.
  3. Sumbang saran (brain storming) yaitu dengan mendapatkan banyak ide dari sekelompok orang yang diperoleh dalam waktu singkat.
  4. Prinsip berselang seling sebagai teknik berpikir kreatif sesungguhnya merupakan paduan teknik yang dilakukan secara bergantian, yaitu: (1) Menghasilkan-Menilai Gagasan, (2) Usaha Individu-Kelompok, (3) Bekerja-Beristirahat, (4) Usaha Terpusat-Meluas, dan (5) Mengubah Sudut Pandang.
2.6  . Pengembangan Kreativitas Dalam Pembelajaran
            Peran guru sebagai brain power menjadi motor penggerak untuk melahirkan karya-karya kreatif anak bangsa. Kini sudah saatnya guru menjadi pelopor dan pengembang kreativitas siswa melalui penyelenggaraan proses pembelajaran yang menumbuhkembangkan kemampuan kreatif.
       
  Kreativitas tidak akan muncul secara instan, melainkan berproses dalam sebuah alur berpikir. Berpikir kreatif awalnya dirangsang oleh munculnya berbagai kepenasaran dan keingintahuan (curioucity), atau didorong oleh kebutuhan untuk memecahkan masalah yang rumit.




10
            Bagaimanapun luasnya pengetahuan dan tingginya skill yang dimiliki guru, apabila tidak disertai kemampuan transformasi secara baik, maka akan sulit bagi siswa untuk memahami penjelasan gurunya. Sehubungan dengan hal itu, kemampuan pedagogic menjadi sangat penting bagi seorang guru.
           Pengembangan kreativitas dalam proses pembelajaran dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
  1. Menyadari adanya masalah yang menarik perhatian dan penting untuk segera dicari pemecahannya, atau menghadapi kebutuhan yang urgent, atau memiliki sebuah imajinasi yang ingin diwujudkan untuk kemaslahatan umat;
  2. Mengidentifikasi akar masalah, fokus kebutuhan, serta target produk imajinasi;
  3. Mencari berbagai rujukan yang dapat memberi inspirasi bagi lahirnya ide-ide baru dalam upaya memecahkan masalah atau mewujudkan keinginan di atas;
  4. Merumuskan berbagai alternatif solusi atau produk yang belum pernah atau jarang dilakukan orang lain;
  5. Menilai setiap alternatif solusi melalui diskusi secara transparan agar dapat menemukan alternatif terbaik;
  6. Mengembangkan alternatif terpilih menjadi sebuah karya inovatif.
            Dengan bergulirnya reformasi pendidikan telah memberi angin segar bagi perubahan paradigma pembelajaran. Kegiatan belajar tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, melainkan berkembang menuju proses pendewasaan dan kematangan intelektual, emosional, dan sosial. Pendidikan lebih diarahkan sebagai investasi sumberdaya manusia, melalui upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.


11
            Dengan demikian, dalam proses pembelajaran mengandung dua aktivitas penting, yaitu belajar dan mengajar.
             Hasil pembelajaran tidaklah bersifat instan, melainkan berproses secara sistematis untuk membentuk makna bagi kedua belah pihak, baik siswa sebagai learner maupun guru sebagai teacher. Keharmonisan interaksi di antara keduanya akan membangun suasana belajar yang menyenangkan, sehingga pada saatnya akan menumbuh-suburkan semangat untuk berkarya secara kreatif. Kehadiran guru professional yang kreatif akan memicu lahirnya inovasi proses dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi.




















BAB III

PENUTUP

3.1  Simpulan

        Untuk mengembangkan kreativitas anak dibutuhkan keharmonisan antara guru dan anak dalam prose belajar mengajar dan  tidak kalah pentingnya peran orang tua anak tersebut. Kreativitas anak juga akan berkembang dengan hadirnya guru professional yang kreatif sebagai pemicu lahirnya inovasi proses dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi.    
  

3.2  Saran
 1.      Para tenaga pendidik,khususnya guru hendaknya terus mempelajari dan menerapkan berbagai model dan       strategi pembelajaran agar kreativitas anak meningkat.
2.      Untuk mentransformasi dibutuhkan guru yang mempunyai kemampuan pedagogic yang baik.
3.      Adanya kerja sama orang tua anak dengan guru dan sekolah.







12



13

DAFTAR PUSTAKA

1.      M.M Sutopo, Tjetjep.2005.”Pengembangan Kreativitas Anak”.Bandung:Depdiknas.
2.      Salim,Sambas.2009.”Pengembangan Kreativitas”.Melalui (http://www.sambasalim.com)
3.      S.pd,Trihardiyanti.2005.”Perekembangan Aktivitas Anak Melalui Pembelajaran Bermasalah”Melalui (http://binatalenta.com)
4.      Basuki,Heru.2006.”Pengembangan Kreativitas”Melalui (http://www.heru.staff.gunadarma.ac.id)

























  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Rachmat Subarkah mengatakan...

makasih makalahnya. sangat berguna buat tugas.ku

Udin Musthofa mengatakan...

Makasih referensi makalahnya,
blog desain grafis .. visit us http://ads-advertising12.blogspot.com

Poskan Komentar